(Seminar Pemuda KPT GKI SW Jabar, 30 November 2013)

Frasa “Ibadah dan Dunia Pemuda” sesungguhnya hendak mendialogkan
dua hal yang tak terpisahkan dan selalu menjadi tantangan dalam kehidupan
gereja. Di satu sisi, sebagaimana
disinggung oleh Pdt. Dianawati S. Yuwanda (pembicara pertama), ibadah memiliki peran penting dalam kehidupan
gereja mengingat karya keselamatan Allah dan pergulatan sosial manusia menyatu
dalam pengalaman umat (ibadah) serta terhubung dengan pengutusan (ibadah aktual
dalam bentuk memberlakukan kasih kepada manusia dan seluruh ciptaan). Hal ini
membuat ketiga komponen tersebut (karya keselamatan Allah, pergulatan sosial
manusia dan pengutusan) saling terhubung satu dengan yang lain. Di dalamnya,
gereja menjalankan fungsi pastoral (membimbing, menegur, menyembuhkan dan
mendamaikan) agar manusia hidup dalam damai sejahtera dengan Allah dan dengan
seluruh ciptaan. Inilah yang menjadi pijakan untuk memahami berbagai bentuk
ibadah di dalam gereja, termasuk ibadah pemuda.
Di sisi lain, bagi Pdt. Dianawati, gereja juga berhadapan
dengan dunia pemuda yang semakin hari mengalami pergeseran otoritas dari yang
bersifat komunal ke arah yang bersifat individual (Individualisme Iman). Akibatnya,
iman kehilangan pesonanya dalam memengaruhi kehidupan bersama. Situasi ini
berjalan bersamaan dengan perkembangan teknologi informasi yang membombardir
generasi muda dengan informasi yang berlebihan (overload information), meminggirkan dimensi komunal ― termasuk peran Tuhan ― dalam interaksi sosial dan
menciptakan kesenjangan (gap) antargenerasi. Inilah generasi mosaic yang oleh Pdt. Dianawati,
dengan merujuk buku You Lost Me
karangan David Kinnaman & Aly Hawkins, digambarkan sebagai generasi yang
lebih mempercayai teman sebaya, relativisme dan ketertarikan kepada
spiritualitas berdasarkan pengertiannya sendiri; bukan lagi pada orang tua,
gereja, pemerintah, bahkan Alkitab.
Persoalan di atas sesungguhnya bisa dibaca dari
sudut pandang psikologi. Ferdinand Prawiro (pembicara kedua), dengan merujuk teori perkembangan iman (Stages of Faith) yang diperkenalkan oleh
James Fowler, memperlihatkan bahwa persoalan di atas sesungguhnya berada pada tahap
keempat (tahap conventional faith; awal
masa remaja) dan kelima (tahap reflective
faith; awal masa pemuda). Pada tahap ini, berkembang kebutuhan untuk berbagi
pengalaman pribadi dengan teman sebaya, kebutuhan untuk memiliki hubungan personal
dengan Tuhan dan cenderung mempertanyakan nilai dan keyakinan yang ada; terjadi
pergeseran dari otoritas eksternal ke otoritas diri (authority within the self). Bagi Prawiro, tahap ini merupakan fase
yang kritis mengingat radikalisme dapat terbentuk di sini. Mereka yang perkembangan
religiositasnya tertahan di tahap keempat ― tidak sanggup melewati tahap tersebut
― memiliki
potensi menjadi seorang yang radikal mengingat ketergantungannya pada apa yang
bersifat tekstual dan otoritas eksternal. Selain itu, fase ini juga menjadi
kritis ― khususnya pada tahap kelima ― mengingat di sinilah generasi muda menarik
diri dari berbagai kegiatan ibadah, seiring menguatnya otoritas diri.
Di sinilah letak tantangan yang dihadapi gereja
untuk mengelola ibadah pemuda dalam rangka pendampingan untuk membimbing, menegur, menyembuhkan
dan mendamaikan (fungsi pastoral gereja). Ibadah tidak dibaca sebagai kegiatan
yang berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan berbagai hal yang terkait
kehadiran gereja di tengah dunia. Oleh karena itu, Pdt. Dianawati
meletakkan ibadah pemuda dalam bingkai yang lebih luas, yakni pembangunan
jemaat di mana gereja bergumul secara terpadu dan sinambung untuk menghadirkan
kesaksian dan pelayanan ― sesuai kehendak Allah ― di wilayah kehadirannya. Pendekatan ini membuat
pengelolaan ibadah pemuda harus memperhatikan pendekatan lima faktor yang
dikenal dalam pembangunan jemaat:
Input:
|
|
Output:
|
|
Iklim:
|
|
Struktur:
|
|
Identitas:
|
|
Tujuan & tugas:
|
|
Kepemimpinan:
|
|
Seluruh
proses di atas harus dijalankan secara tertib, teratur dan sopan (rasa hormat)
dan dialogis. Bagi Pdt. Dianawati, hal ini dikarenakan fondasi dari ibadah adalah
merayakan tindakan Allah di dalam kehidupan manusia; termasuk ibadah pemuda
tentunya. Oleh karena itu, gerak liturgis harus tertata dengan baik; termasuk
tata ruang, waktu dan gerak. Proses seperti ini diyakini akan menjadikan ibadah
sebagai perjumpaan yang hidup antara umat dengan Tuhan untuk mewujudkan tanggungjawab
bersama di tengah dunia.
Selain
penataan di atas, ada catatan menarik dari Prawiro yang penting diperhatikan dalam mengelola ibadah pemuda. Bagi Prawiro, peran orang tua dan teman
sebaya (peer) perlu diberi tempat dan dikelola dengan
baik mengingat kedua hal tersebut memiliki dampak yang besar dalam perkembangan
iman generasi muda. Tabel berikut paling tidak menggambarkan bagaimana
identitas keagamaan orang tua berpengaruh pada generasi muda.
